Kesiapsiagaan Bela Negara

Kesiapsiagaan bela negara merupakan aktualisasi nilai-nilai bela negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai peran dan profesi warga negara, demi menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman yang pada hakikatnya mendasari proses nation and character building.

Kesiapsiagaan Bela Negara merupakan kondisi Warga Negara yang secara fisik memiliki kondisi kesehatan, keterampilan dan jasmani yang prima serta secara kondisi psikis yang memiliki kecerdasan intelektual, dan spiritual yang baik, senantiasa memelihara jiwa dan raganya memiliki sifat-sifat disiplin, ulet, kerja keras dan tahan uji, merupakan sikap mental dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaan kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sebagai calon aparatur pemerintahan sudah seharusnya mengambil bagian di lini terdepan dalam setiap upaya bela negara, sesuai bidang tugas dan tanggungjawab masing-masing. Kesiapsiagaan bela negara bagi CPNS adalah kesiapan untuk mengabdikan diri secara total kepada negara dan bangsa dan kesiagaan untuk menghadapi berbagi ancaman multidimensional yang bisa saja terjadi di masa yang akan dating, Kesiapsiagaan bela negara bagi CPNS menjadi titik awal langkah penjang pengabdian yang didasari oleh nilai-nilai dasar negara.

Cinta Tanah Air Kesadaran Berbangsa dan bernegara, misalnya yakin terhadap Pancasila sebagai ideologi negara dan rela berkorban untuk bangsa dan negara, ini adalah contoh awal kesediaan bela negara. Hal lain yang bisa dicontohkan adalah adanya kepatuhan dan ketaatan pada hukum yang berlaku.

Kesiapsiagaan bela negara bagi CPNS bukanlah kesiapsiagaan untuk melaksanaan perjuangan fisik seperti para pejuang terdahulu, tetapi bagaimana melanjutkan perjuangan mereka dengan pranata nilai yang sama demi kejayaan bangsa dan negara Indonesia.


Menjelaskan kerangka bela negara dalam Latsar CPNS

Menurut asal kata, kesamaptaan sama maknanya dengan kata kesiapsiagaan yang berasal dari kata: Samapta, yang artinya: siap siaga atau makna lainnya adalah siap siaga dalam segala kondisi.

Bela negara adalah adalah kebulatan sikap, tekad dan perilaku warga negara yang dilakukan secara ikhlas, sadar dan disertai kerelaan berkorban sepenuh jiwa raga yang dilandasi oleh kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD NKRI 1945 untuk menjaga, merawat, dan menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Adapun berbagai bentuk kesiapsiagaan dimaksud adalah kemampuan setiap CPNS untuk memahami dan melaksanakan kegiatan olah rasa, olah pikir, dan olah tindak dalam pelaksanaan kegiatan keprotokolan yang di dalamya meliputi pengaturan tata tempat, tata upacara (termasuk kemampuan baris berbaris dalam pelaksaan tata upacara sipil dan kegiatan apel), tata tempat, dan tata penghormatan yang berlaku di Indonesia sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku.

Aplikasi kesiapsiagaan Bela Negara dalam Latsar CPNS selanjutnya juga termasuk pembinaan pola hidup sehat disertai pelaksanaan kegiatan pembinaan dan latihan ketangkasan fisik dan pembinaan mental lainnya. Akhirnya, aplikasi dari latihan kesiapsiagaan Bela Negara ini juga akan menjadi modal penguatan jasmani, mental dan spiritual dalam pelaksaaan tugas CPNS yang memiliki fungsi utama sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, dan sebagai perekat dan pemersatu Negara bangsa dari segala Ancaman, Ganguan, Hambatan, dan Tantangan (AGHT) baik dari dalam maupun luar negeri.

bahwa ruang lingkup Nilai-Nilai Dasar Bela Negara mencakup:

  1. Cinta Tanah Air;
  2. Kesadaran Berbangsa dan bernegara;
  3. Yakin akan Pancasila sebagai ideologi negara;
  4. Rela berkorban untuk bangsa dan negara; dan
  5. Memiliki kemampuan awal bela negara.
  6. Semangat untuk mewujudkan negara yang berdaulat, adil dan makmur.

Oleh sebab itu maka dalam pelaksanaan pelatihan dasar bagi CPNS, peserta akan dibekali dengan kegiatan-kegiatan dan latihan-latihan seperti :

  1. Kegiatan Olah Raga dan Kesehatan Fisik;
  2. Kesiapsiagaan dan kecerdasan Mental;
  3. Kegiatan Baris-berbaris dan Tata Upacara;
  4. Keprotokolan;
  5. Pemahaman Dasar Fungsi-fungsi Intelijen dan Badan Pengumpul Keterangan;
  6. Kegiatan Ketangkasan dan Permainan dalam Membangun Tim;

Apabila kegiatan kesiapsiagaan bela negara dilakukan dengan baik, maka dapat diambil manfaatnya antara lain:

  1. Membentuk sikap disiplin waktu, aktivitas, dan pengaturan kegiatan lain.
  2. Membentuk jiwa kebersamaan dan solidaritas antar sesama rekan seperjuangan.
  3. Membentuk mental dan fisik yang tangguh.
  4. Menanamkan rasa kecintaan pada bangsa dan patriotisme sesuai dengan kemampuan diri.
  5. Melatih jiwa leadership dalam memimpin diri sendiri maupun kelompok dalam materi Team Building.
  6. Membentuk Iman dan taqwa pada agama yang dianut oleh individu.
  7. Berbakti pada orang tua, bangsa, agama.
  8. Melatih kecepatan, ketangkasan, ketepatan individu dalam melaksanakan kegiatan.
  9. Menghilangkan sikap negatif seperti malas, apatis, boros, egois, tidak disiplin.
  10. Membentuk perilaku jujur, tegas, adil, tepat, dan kepedulian antar sesama.


Menjelaskan kemampuan awal kesiapsiagaan bela negara

Untuk bisa melakukan internalisasi dari nilai-nilai dasar bela negara tersebut, kita harus memiliki:

  1. kesehatan dan kesiapsiagaan jasmani maupun mental yang mumpuni
  2. memiliki etika, etiket, moral dan nilai kearifan lokal sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia.

Kesehatan jasmani dapat juga didefinisikan sebagai kemampuan untuk menunaikan tugas (AKTIVITAS FISIK) dengan baik walaupun dalam keadaan sukar, dimana orang dengan kesehatan jasmani yang kurang tidak mampu untuk melaksanakan atau menjalaninya.

Aktivitas fisik dapat dilakukan dimana saja baik di rumah, di tempat kerja, atau di tempat umum dengan memperhatikan lingkungan yang aman dan nyaman, bebas polusi, serta tidak beresiko menimbulkan cedera.

Kemampuan Awal Bela Negara

  1. Kesehatan Jasmani 
  2. Kesehatan Mental

Jasmani

Kebugaran jasmani dan olahraga

Sebagai Aparatur Sipi Negara, anda tidak hanya membutuhkan jasmani yang sehat, tetapi juga memerlukan jasmani yang bugar. Kebugaran jasmani ini diperlukan agar dapat menjalankan setiap tugas jabatan Anda dengan baik tanpa keluhan. Komponen kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan dan dapat diukur adalah :

  1. Komposisi tubuh
  2. Kebugaran jasmani 
  3. Pola hidup sehat 
  4. Gangguan Kesehatan Jasmani

Komposisi tubuh


Kebugaran jasmani

Kelenturan / fleksibilitas tubuh : Dengan adanya kelenturan / fleksibilitas tubuh ini Anda dapat menyesuaikan diri untuk segala aktifitas Anda dengan penguluran tubuh yang luas. Dengan kelenturan otot ini dapat mengurangi resiko cedera (orang yang kelenturannya tidak baik cenderung mudah mengalami cedera).

Kekuatan Otot : Kekuatan otot ini menggambarkan kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam menggunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja.

Daya tahan jantung paru : Daya tahan jantung paru ini menggambarkan kemampuan seseorang dalam menggunakan sistem jantung paru dan peredaran darahnya secara efektif dan efisien untuk menjalankan kerja terus menerus yang melibatkan kontraksi otot-otot dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama. Pengukuran daya tahan jantung paru ini adalah dengan tes Harvard, tes lari 2,4 km (12 menit), Ergocycles test.

Daya tahan otot : Daya tahan otot ini menggambarkan kemampuan untuk mengatasi kelelahan. Pengukurannya adalah dengan push up test, sit up test.

Untuk mencapai kebugaran dapat dilakukan dengan melakukan olahraga. Olahraga adalah suatu bentuk aktifitas fisik yang terencana dan terstruktur, yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Dengan melakukan olahraga secara teratur tubuh akan bugar. Dampak yang dihasilkan dari meningkatnya kualitas kebugaran jasmani adalah menurunnya angka bolos kerja, masa sembuh sakit menjadi lebih cepat, waktu pulih asal dari kelelahan juga lebih singkat, lebih bergairah karena produksi hormon norepinefrin lebih tinggi, sehingga memberikan efek pada prestasi kerja, kreatifitas, dan kecerdasan

Pola Hidup Sehat

Pola hidup sehat yaitu segala upaya guna menerapkan kebiasaan baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan diri dari kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. Pola hidup sehat diwujudkan melalui perilaku, makanan, maupun gaya hidup menuju hidup sehat baik itu sehat jasmani ataupun mental.

Kebiasaan-kebiasaan baik dalam pola hidup sehat yang perlu Anda laksanakan dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan cara :

  1. Makan sehat 
  2. Aktifitas sehat 
  3. Berpikir sehat 
  4. lingkungan sehat 
  5. Istirahat sehat 

Gangguan jasmani 
Beberapa ciri jasmani yang sehat adalah :
  1. Normalnya fungsi alat-alat tubuh, terutama organ organ vital (jantung, paru). Tanda-tanda vital normal tubuh misalnya : tekanan darah sekitar 120/80 mmHg, frekuensi pernafasan sekitar 12 – 18 nafas per menit, denyut nadi antara 60 – 80 kali per menit, serta suhu tubuh antara 360 – 370 Celcius.
  2. Punya energi yang cukup untuk melakukan tugas harian (tidak mudah merasa lelah)
  3. Kondisi kulit, rambut, kuku sehat: menggambarkan tingkat nutrisi tubuh
  4. Memiliki pemikiran yang tajam: asupan dan pola hidup yang sehat akan membuat otak bekerja baik
Psikosomatis merupakan salah satu gangguan kesehatan jasmani. Psikosomatis dapat diartikan sebagai
penyakit fisik / jasmani yang dipengaruhi oleh faktor psikologis. Gangguan kesehatan jasmani seperti nyeri punggung, mata lelah, hingga gangguan tidur bisa ditimbulkan dari gaya hidup kurang gerak. Selain itu gedung kantor dan peralatan kantor seperti komputer, pendingin ruangan, lift, serta pencahayaan ruangan dapat menjadi sumber gangguan kesehatan jasmani. Beberapa penyakit orang kantoran lainnya adalah : masalah persendian, nyeri leher, pusing, nyeri kepala, penyakit kulit, dan gangguan ginjal.

Kesehatan Mental 

Inti dari suatu kesehatan mental adalah sistem kendali diri yang bagus. Itu sebabnya, salah satu cara mendapatkan kendali diri yang baik adalah dengan memelihara kesehatan otak (healthy brain) lebih dari sekadar kenormalan otak (normal brain). Disinilah letak peranan kesehatan jasmani, seperti makan, berolahraga dan rileksasi, harus mendapat perhatian. Termasuk juga kemampuan mengelola stres. Manajemen stres dan kendali diri harus berubah dari sekadar reaktif menjadi ketrampilan aktif (skill). Keduanya harus dilatih sedemikian rupa sehingga seseorang memiliki kemampuan-kemampuan utama dalam membangun kesehatan mental dan kesehatan spiritual. Pada gilirannya, dua ketrampilan utama ini akan berkontribusi dalam pembentukan karakter dan integritas diri sebagai ASN.

Sistem berpikir 

Jika sistem 1 yang bekerja, maka bagian otak bernama limbik lah yang mendominasi kinerja otak. Limbik dikelompokkan sebagai salah satu komponen “otak tua” (paleocortex). Ini bagian otak yang lebih dulu ada dalam otak manusia dan dimiliki semua mahluk dengan bentuk yang berbeda, terutama dimiliki reptil. Limbik dan batang otak kadang disebut bersama sebagai reptilian-mammalian brain. Limbik diciptakan oleh Tuhan untuk membantu manusia merespon sebuah kejadian yang membutuhkan keputusan cepat.

Tubuh yang siaga ini segera menjadi kuat luar biasa dan siap menerjang lawan (fight) atau ambil langkah seribu (flight). Bisa dibayangkan apabila urusan yang maha penting, seperti urusan Negara harus diputuskan oleh otak yang seperti ini.

Jika sistem 1 ini bekerja maka kemungkinan terjadi pembajakan (hijacking) terhadap pikiran rasional sangatlah besar. Saat ini terjadilah ‘buta pikiran’. “Buta pikiran” dapat terjadi juga karena data kurang lengkap, bias dan menyimpang dan saat yang sama keputusan cepat harus diambil.

Sistem 2 bekerja lambat, penuh usaha, analitis dan rasional. Komponen otak yang bekerja adalah cortex prefrontal yang dikelompokkan sebagai Neocortex (“otak baru”) karena secara evolusi ia muncul lebih belakangan pada primata dan terutama manusia. Disinilah, data dianalisis, dicocokkan dengan memori, dan diracik kesimpulan yang logis. Pada mereka yang terlatih dengan baik sistem 2 ini dapat bekerja lebih cepat dari sistem 1 dengan akurasi dan presisi kesimpulan yang tepat.

Kesehatan Berpikir 
Kesalahan-kesalahan berpikir itu antara lain :
  • Berpikir ‘ya’ atau ‘tidak’ sama sekali (Should/must thinking)
  • Generalisasi berlebihan (overgeneralization)
  • Magnifikasi-minimisasi (magnificationminimization)
  • Alasan-alasan emosional (emotional reasoning)
  • Memberi label (labeling)
  • Membaca pikiran (mind reading)
Pikiran-pikiran yang menyimpang di atas menjadi dasar dari lahirnya cara berpikir yang salah atau kesesatan berpikir (fallacy). Berikut sejumlah cara berpikir yang sesat yang sering tanpa sadar menghinggapi diri seseorang ketika berinteraksi dengan pelbagai perstiwa dan dalam hubungan sosial:
  • cenderung merasa paling tahu dan paling benar. Kebenaran adalah saya dan saya adalah kebenaran. Inilah pola sesat pikir yang disebut dengan egocentris righteousness
  • Kita cenderung tidak mau mempelajari, mencari tahu, atau menambah wawasan mengenai hal-hal lain yang bertentangan dengan apa yang kita yakini.
  • egocentric memory. Saking kuatnya memory dalam otak kita yang mendukung gagasan tertentu, seringkali hal-hal yang salah malah mendapatkan justifikasi atau pembenaran tanpa kita sadari.
  • Kita cenderung tidak mempercayai fakta atau data yang menggugat apa yang sudah kita percayai sebelumnya sekalipun fakta itu akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
  • Kita cenderung membuat generalisasi (pukul rata) secepat mungkin atas setiap perasan dan pengalaman kita. Pola sesat pikir ini disebut over-generalization atau egocentric immediacy.
  • Kita cenderung mengabaikan hal-hal yang terasa rumit dan kompleks dalam upaya memperbaiki diri.  Sesat pikir yang disebut egocentric over-simplification.
Dengan menghindari pikiran yang menyimpang (distorted thinking) tersebut, maka seseorang akan terpelihara dari kesesatan berpikir (fallacy). Selain itu, keputusan-keputusan yang dibuat adalah keputusan yangberbasis pada pikiran yang sehat. Membuat keputusan (decision making) adalah salah satu kemampuan penting manusia yang bertumpu pada pikiran-pikiran yang sehat.

Kendali diri (self control atau Self regulation)

Kendali diri adalah tanda kesehatan mental dan kesehatan spiritual yang paling tinggi. Secara sederhana, kendali diri adalah kemampuan manusia untuk selalu dapat berpikir sehat dalam kondisi apapun. Pada tingkat yang lebih tinggi kendali diri berkaitan dengan integritas dan karakter. Membangun integritas pribadi (personal integrity)

Manajemen Stres
Peneliti stress Hans Selye mendefenisikan stres sebagai ‘ketidakmampuan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya maupun terhadap lingkungannya’ atau ‘respon tidak spesifik dari tubuh atas pelbagai hal yang dikenai padanya’. Seorang ASN sepanjang menjalankan tugas jabatannya dimungkinkan akan bersinggungan dengan banyak permasalahan atau stressor yang akan memberi perasaan tidak enak atau tertekan baik fisik ataupun mental yang mengancam, mengganggu, membebani, atau membahayakan keselamatan, kepentingan, keinginan, atau kesejahteraan hidupnya.
Dikenal 3 hal fase dari stres berdasarkan hasil penelitian Hans Seyle.
  • Fase 1: Alarm reaction. Tubuh memberi tanda-tanda (alarm) adanya reaksi stres untuk menunjukkan adanya sesuatu yang bersifat stresor.
  • Fase 2: stage of resistance. Tubuh menjadi kebal (resisten) terhadap stressor karena stressor tersebut terjadi berulang. Tubuh sudah bisa beradaptasi dengan stressor yang sama.
  • Fase 3: stage of exhaustion. Akibat stressor yang sama berulang terus sepanjang waktu maka tubuh mengalami kelelahan (exhaust). Tanda-tanda alarm muncul lagi dan bisa membawa akibat fatal bagi tubuh.
Lima tanda berikut ini menunjukkan bahwa pikiran kita sedang bekerja secara berlebihan dan kemungkinan besar sedang stres (mind is stressed)
  1. Pikiran menjadi sangat cepat, seperti sedang balap.
  2. Kontrol terhadap pikiran tersebut menjadi sangat sulit.
  3. Menjadi cemas, mudah terangsang dan bingung.
  4. Lebih sering dan konsentrasi makin sulit.
  5. Menjadi sulit tidur atau sulit tidur kembali.
3 cara mengelola stress:
  • Mengelola sumber stress (stressor)
  • Mengubah cara berpikir, cara merespon stress (changing the thought)
  • Mengelola respon stress tubuh (stress response)
Emosi Positif
Emosi positif terdiri dari sejumlah komponen berikut (Pasiak, 2012):
  1. Senang terhadap kebahagiaan orang lain.
  2. Menikmati dengan kesadaran bahwa segala sesuatu diciptakan atas tujuan tertentu/mengambil hikmah.
  3. Bersikap optimis akan pertolongan Tuhan.
  4. Bisa berdamai dengan keadaan sesulit/separah apapun.
  5. Mampu mengendalikan diri.
  6. Bahagia ketika melakukan kebaikan

KESIAPSIAGAAN JASMANI DAN MENTAL

Kesiapsiagaan Jasmani
Salah satu bagian kesiapsiagaan yang wajib dimiliki dan dipelihara oleh PNS adalah kesiapsiagaan jasmani. Kesiapsiagaan jasmani merupakan serangkaian kemampuan jasmani atau fisik yang dimiliki oleh seorang PNS atau CPNS yang akan menjadi calon pegawai.

Berbagai bentuk latihan kesiapsiagaan Jasmani yang dilakukan dapat diketahui hasilnya dengan mengukur kekuatan stamina dan ketahanan fisik seseorang secara periodik minimal setiap 6 bulan sekali. Berikut ini beberapa bentuk kesiapsiagaan fisik yang sering digunakan dalam melatih kesiapsiagaan jasmani, yaitu; Lari 12 menit, Pull up, Sit up, Push up, Shutle run (Lari membentuk angka 8), lari 2,4 km atau cooper test, dan Berenang.

Kesiapsiagaan Mental
Kesiapsiagaan mental adalah kesiapsiagaan seseorang dengan memahami kondisi mental, perkembangan mental, dan proses menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan sesuai dengan perkembangan mental/jiwa (kedewasaan) nya, baik tuntutan dalam diri sendiri maupun luar dirinya sendiri, seperti menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah, sekolah, lingkungan kerja dan masyarakat.
Untuk itu agar setiap orang dapat mencapai tingkat kesiapsiagaan mental yang baik, maka hendaknya:
  • Menerima dan mengakui dirinya sebagaimana adanya (Ikhlas dan bersyukur).
  • Berpikir positif dan bersikap sportif.
  • Percaya diri dan memiliki semangat hidup.
  • Siap menghadapi tantangan dan berusaha terus untuk mengatasinya.
  • Terbuka, tenang, tidak emosi bila menghadapi masalah.
  • Banyak bergaul dan bermasyarakat secara positif.
  • Banyak latihan mengendalikan emosi negatif, dan membiasakan membangkitkan emosi positif.
  • Memiliki integrasi diri atau keseimbangan fungsifungsi jiwa dalam mengatasi problema hidup termasuk stress.
  • Mampu mengaktualisasikan dirinya secara optimal guna berproses mencapai kematangan.
  • Mampu bersosialisasi atau menerima kehadiran orang lain.
  • Menemukan minat dan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan.
  • Memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya.
  • Pengawasan diri atau memiliki kontrol diri terhadap segala keinginan yang muncul.
  • Memiliki perasaan benar dan sikap bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.
Kecerdasan Emosional
kecerdasan emosional adalah gabungan dari semua emosional dan kemampuan sosial untuk menghadapi seluruh aspek kehidupan manusia. Kemampuan emosional meliputi, sadar akan kemampuan emosi diri sendiri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan menyatakan perasaan orang lain, dan pandai menjalin hubungan dengan orang lain.

Ada prinsip-prinsip utama yang perlu dipenuhi untuk melatih kecerdasan emosional.
  1. Kenali emosi yang Anda rasakan
  2. Minta pendapat orang lain
  3. Mengamati setiap perubahan emosi dan mood Anda.
  4. Menulis jurnal atau buku harian.
  5. Berpikir sebelum bertindak.
  6. Gali akar permasalahannya
  7. Berintrospeksi saat menerima kritik
  8. Memahami tubuh Anda sendiri
  9. Terus melatih kebiasaan tersebut


ETIKA, ETIKET DAN MORAL

Etika dapat juga disimpulkan sebagai suatu sikap dan perilaku yang menunjukkan kesediaan dan kesanggupan seorang secara sadar untuk mentaati ketentuan dan norma kehidupan melalui tutur, sikap, dan perilaku yang baik serta bermanfaat yang berlaku dalam suatu golongan, kelompok, dan masyarakat serta pada institusi formal maupun informal.

Etiket ini sebagai bentuk aturan tertulis maupun tidak tertulis mengenai aturan tata krama, sopan santun, dan tata cara pergaulan dalam berhubungan sesama manusia dengan cara yang baik, patut, dan pantas sehingga dapat diterima dan menimbulkan komunikasi, hubungan baik, dan saling memahami antara satu dengan yang lain.

Bentuk Etiket Secara Umum
  1. Etiket Kerapihan Diri dan Tata Cara Berpakaian (Grooming)
  2. Etiket Berdiri
  3. Etiket Duduk
  4. Etiket Berjalan
  5. Etiket Berkenalan dan Bersalaman
  6. Etiket Berbicara
  7. Etiket dalam Jamuan
Attitude adalah cara individu berpikir, berbicara, dan bertindak, sementara etika adalah konsep yang memandu perilaku yang dianggap tepat. 
Attitude adalah sikap dan perilaku yang Anda tunjukan sehari-hari. Cara berbicara, bertindak, memperlakukan orang lain, semua itu adalah cerminan dari apa yang Anda pikirkan.
Sementara attitude, sikap mental dan emosional seseorang, menjadi cermin kepribadian yang mempengaruhi cara individu berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Adab mencakup etika berbicara, sopan santun, dan kesadaran terhadap ruang pribadi orang lain

Moral
Dengan kata lain, kalau arti kata ’moral’ sama dengan kata ‘etika’, maka rumusan arti kata ‘moral’ adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagiseseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu ‘etika’ dari bahasa Yunani dan ‘moral’ dari bahasa Latin. Selanjutnya, ‘Moralitas’ (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan ‘moral’, hanya ada nada lebih abstrak. Berbicara tentang “moralitas suatu perbuatan”, artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya perbuatan tersebut. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.


Kearifan Lokal
Kearifan lokal adalah hasil pemikiran dan perbuatan yang diperoleh manusia di tempat ia hidup dengan lingkungan alam sekitarnya untuk memperoleh kebaikan. Kearifan Lokal dapat berupa ucapan, cara, langkah kerja, alat, bahan dan perlengkapan yang dibuat manusia setempat untuk menjalani hidup di berbagai bidang kehidupan manusia. Kemudian Kearifan Lokal pun dapat berupa karya terbarukan yang dihasilkan dari pelajaran warga setempat terhadap bangsa lain di luar daerahnya.

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa dengan menjaga dan melestarikan kearfian lokal yang mengandung nilai-nilai jati diri bangsa yang luhur dan terhormat tersebut merupakan sesuatu hal yang tidak bisa terbantahkan lagi sebagai salah satu modal yang kita miliki untuk melakukan bela negara.

Menyusun rencana aksi bela negara

peserta Latsar CPNS pada akhir kegiatan diberikan tugas untuk membuat Rencana Aksi sebagai bentuk dari penjabaran kegiatan bela negara yang akan dilakukan baik selama on campus di lembaga diklat maupun selama off campus di instansi tempat bekerja peserta Latsar CPNS masing-masing.





Melakukan kegiatan kesiapsiagaan bela negara.

PERATURAN BARIS BERBARIS

PBB bertujuan untuk mewujudkan disiplin yang prima, agar dapat menunjang pelayanan yang prima pula, juga dapat membentuk sikap, pembentukan disiplin, membina kebersamaan dan kesetiakawanan dan lain sebagainya dengan demikian peserta Latsar CPNS senantiasa dapat mengutamakan kepentingan tugas diatas kepentingan individu dan secara tidak langsung juga menanamkan rasa tanggung jawab.

  1. Aba-aba petunjuk adalah dipergunakan hanya jika perlu, untuk menegaskan maksud dari pada aba-aba peringatan/pelaksanaan. 
  2. Pemberi aba-aba harus berdiri dengan sikap sempurna menghadap pasukan, kecuali aba-aba yang diberikan itu berlaku juga bagi pemberi abaaba maka pemberi aba-aba tidak perlu menghadap pasukan.
  3. Aba-aba diucapkan dengan suara lantang, tegas dan bersemangat. Ada 4 jenis aba-aba pelaksanaan yang digunakan dalam iatu Gerak, Jalan, Mulai dan Selesai 
  4. berbagai jenis langkah : langkah biasa, lagkah tegap, langkah defile, langkah ke samping, langkah ke belakang, langkah ke depan, langkah lari 
  5. Sikap sempurna : sikap siap posisi berdiri dan duduk dalam pelaksanaannya sikap tidak ada gerakan bagi peserta tubuh/anggota tubuh
  6. Sikap istirahat adalah sikap posisi berdiri dan duduk dalam pelaksanaannya sikap rilek bagi peserta tubuh/anggota tubuh dengan ketentuan yang telah diatur pada tiap-tiap bentuk posisi sikap istirahat.
  7. Periksa kerapihan 


Pelaksanaan 

  1. Pelaksanaan sikap sempurna posisi duduk di kursi
  2. Pelaksanaan sikap sempurna posisi duduk bersila
  3. Pelaksanaan sikap istirahat posisi berdiri
  4. Pelaksanaan sikap istirahat posisi duduk di kursi
  5. Pelaksanaan sikap istirahat posisi duduk bersila
  6. Tata cara periksa kerapian biasa dan parade
  7. Berhitung dalam bentuk formasi bersaf
  8. Berhitung dalam bentuk formasi berbanjar
  9. Tata cara lencang kanan dan atau lencang kiri
  10. Tata cara setengah lengan lencang kanan dan atau setengah lengan lencang kiri
  11. Tata cara lencang depan
  12. Urutan kegiatan hadap kanan
  13. Urutan kegiatan hadap kiri
  14. Urutan kegiatan hadap serong kanan
  15. Urutan kegiatan hadap serong kiri
  16. Urutan kegiatan balik kanan
  17. Urutan pelaksanaan jalan di tempat
  18. Aba-aba “HENTI = GERAK”.
  19. Panjang, tempo dan macam langkah
  20. Gerakan maju jalan.
  21. Langkah biasa
  22. LangkahTegap.
  23. Langkah Ke Samping
  24. Langkah ke Belakang
  25. Langkah ke Depan
  26. Gerakan langkah berlari dari sikap sempurna
  27. Gerakan langkah berlari dari langkah biasa
  28. Gerakan langkah berlari ke langkah biasa
  29. Gerakan langkah berlari keberhenti
  30. Langkah merdeka
  31. Ganti langkah.
  32. Berhimpun.
  33. Berkumpul.
  34. Gerakan perubahan arah dari berjalan ke berhenti
  35. Perubahan arah pada waktu berlari
  36. Gerakan haluan kanan/kiri hanya dilakukan dalam bentuk bersaf, guna merubah arah tanpa merubah bentuk.
  37. Cara menghadap.
  38. Cara menyampaikan laporan dan penghormatan apabila Peserta dipanggil sedang dalam barisan dengan menyebut nama/pangkat/golongan
  39. Cara menyampaikan laporan dan penghormatan apabila Peserta dipanggil sedang dalam barisan dengan tidak menyebut nama /pangkat/golongan
  40. Cara bergabung masuk barisan perorangan/pasukan kepada pasukan yang lebih besar



Comments

Popular posts from this blog

Pengantar Praktikum Hematologi

Uji VDRL dan RPR

Pemeriksaan Laboratorium terkait Diagnosis Hepatitis B