Uji Banding Hasil Pengukuran dari 2 alat yang Berbeda


Sebagai seorang teknisi laboratorium medis, tentu kita sering menghadapi kondisi dimana laboratorium mempunyai 2 alat yang berbeda baik merek dan pembuat alat namun mempunyai fungsi yang sama. sebagai contoh, untuk pengukuran kadar Glukosa darah di suatu rumah sakit yang selama ini menggunakan alat "A", tetapi kemudian datang alat baru bernama "B" yang kemungkinan akan digunakan sebagai pengganti dari alat "A" atau sebagai cadangan atau backup ketika alat "A" rusak. 

Pertanyaan besarnya adalah "apakah alat "B" DAPAT menggantikan alat "A" dengan hasil dan kualitas hasil pengukuran yang sama dengan alat "A" ?"

Apa yang harus dilakukan ?



















uji banding adalah jawabannya. Berikut hal-hal yang harus diperhatikan untuk prosedur uji banding hasil pengukuran dari 2 alat yang berbeda:

1. Kenali alat yang akan dibandingkan

Kita sebagai pelaku atau pelaksana uji banding ini harus mengetahui dan mengenali alat yang akan dibandingkan seperti merek alat, pembuat alat, spesifikasi, cara penggunaan (prosedur), perawatan, dan hasil uji banding sebelumnya yang mungkin saja pernah dilakukan oleh pembuat alat. Informasi-informasi tersebut tersedia pada website resmi pembuat alat atau kita dapat menanyakannya langsung kepada pembuat alat melalui email apabila informasi yang dibutuhkan tersebut tidak tersedia. 

Catat dan kumpulkan informasi alat yang akan dibandingkan dan informasi tersebut dapat disajikan dalam bentuk slide presentasi atau infografis perbandingan spesifikasi kedua alat.  

 2. Tentukan alat yang menjadi standar atau acuan

Alat yang dipilih sebagai acuan agtau standar adalah alat hyang dipastikan berfungsi dengan baik dan valid. Laboratorium dengan standarisasi ISO 17025 merupakan tempat yang paling sesuai untuk melakukan uji banding karena laboratorium dengan ISO 17025 adalah kategori laboratorium penguji dan kalibrasi. Alat yang digunakan harus terkalibrasi secara berkala dan memiliki sertifikat kalibrasi sebagai bukti. Selain itu, alat yang menjadi standar harus alat yang terawat sehingga dapat berfungsi dengan baik dan mengeluarkan hasil pemeriksaan yang valid. 

3. Sampel pemeriksaan  

Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan dengan parameter yang sama tetapi dengan 2 alat yang berbeda merk, berbeda pembuat alat hingga berbeda prinsip. Namun, sampel yang digunakan harus sampel yang sama. Sebagai contoh, jika parameter yang akan diukur adalah HbA1c dengan sampel darah dengan antikoagulan EDTA, maka sampel darah EDTA yang dibaca pada alat "A" juga akan digunakan sebagai sampel pada alat "B". Variasi dari sampel harus ditekan seminimal mungkin agar hasil perbandingan menjadi valid. Solusi yang dapat dilakukan adalah meletakkan kedua alat pada satu laboratorium yang sama sehingga bias akibat perbedaan suhu ruangan, cahaya, waktu pemeriksaan hingga teknisi yang mengerjakan tidak akan muncul. 

4. Prosedur pemeriksaan 

Pada prinsipnya, pemeriksaan menggunakan suatu alat di laboratorium harus mengikuti SOP atau instruksi kerja yang telah disediakan oleh laboratorium. Hal ini bertujuan untuk menghindari kesalahan saat melakukan pemeriksaan atau penggunaan alat. Setiap SOP dan insruksi kerja dibuat dengan benar, detail, dan mudah dipahami. Setiap melakukan pemeriksaan wajib disertai dengan pengukuran kontrol (QC) untuk memastikan kondisi alat dalam kondisi yang baik. Apabila alat membutuhkan kalibrasi setiap akan digunakan, maka teknisi wajib melakukan hal tersebut dengan mengikuti SOP atau instruksi kerja kalibrasi alat. Bukti telah melakukan QC dan kalibrasi alat sesuai SOP akan menjadi dokumen yang penting bagi teknisi apabila ada yang mempertanyakan validitas dari hasil pemeriksaan yang dilakukan. 

Pemeriksaan pada kedua alat lebih baik dilakukan oleh satu teknisi yang sama untuk menghindari bias. Jadi, satu teknisi mengerjakan sementara satu teknisi yang lain berperan sebagai four eyes yang mengawasi pekerjaan dari teknisi yang mengerjakan sampel. 

 

5. Pengumpulan data dan analisis data 

Data hasil pengukuran dari kedua alat dikumpulkan dan disajikan dalam tabel tabulasi data. Data yang dapat dianalisis adalah data kuantitatif seperti hasil pengukuran HbA1c, hemoglobin hingga glukosa. Ciri data kuantitatif dari hasil pemeriksaan laboratorium adalah data yang berupa angka dan memiliki satuan seperti pg/mL atau ng/mL.  

Evaluasi hasil dengan melakukan analisis menggunakan software Graphpad Prism 8, SPSS 23, CatMaker dan MedCalc. Analisis data yang dilakukan adalah:

  •  Uji Normalitas Data

Uji normalitas adalah uji statistik yang digunakan untuk menguji apakah data yang diamati memiliki distribusi normal atau tidak. Uji normalitas biasanya digunakan dalam penelitian kuantitatif untuk memastikan bahwa data yang diamati memenuhi asumsi yang diperlukan untuk analisis statistik, yaitu analisis regresi atau uji t. Uji normalitas yang digunakan adalah uji Kolmogorov-Smirnov menggunakan bantuan piranti lunak SPSS 23.

  • Uji t berpasangan

Uji t berpasangan (paired t-test) adalah uji untuk membandingkan rata-rata dua variabel untuk suatu grup sampel tunggal. Uji t berpasangan umumnya menguji perbedaan antara dua pengamatan. Uji seperti ini dilakukan pada subjek yang diuji untuk situasi sebelum dan sesudah proses, atau subjek yang berpasangan ataupun serupa (sejenis). Uji t-test berpasangan juga dilakukan dengan bantuan piranti lunak SPSS 23. 

  •  Bland-altman analysis 

Plot Bland-Altman (B&A) adalah analisis untuk menggambarkan kesesuaian antara dua pengukuran kuantitatif dengan menetapkan metode untuk mengukur kesesuaian antara dua pengukuran kuantitatif dengan membangun batas kesepakatan (limit of agreement). Batasan statistik ini dihitung dengan menggunakan mean dan deviasi standar dari perbedaan antara dua pengukuran. Plot Bland-Altman banyak digunakan dalam pengujian, validasi, dan verifikasi metode baru. Validasi metode pengukuran baru untuk penerapan praktik medis memerlukan perbandingan dengan teknik standar emas (gold standard method). 

Plot Bland – Altman juga digunakan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan perbedaan antara pengukuran dan nilai sebenarnya seperti pengukuran bias proporsional. Bias proporsional menunjukkan bahwa metode-metode tersebut tidak memiliki kesesuaian yang sama dalam rentang pengukuran. Pembuatan plot Bland-Altman ini dapat dilakukan menggunakan software MedCalc. 

  • Uji Regresi Linier

Regresi linear adalah metode statistik yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara variabel dependen (Y) dengan satu atau lebih variabel independen (X). Metode ini mencoba untuk memodelkan hubungan linier antara variabel-variabel tersebut. Regresi linear sangat berguna dalam analisis prediksi, pemodelan, dan pemahaman kausalitas antara variabel-variabel tersebut. Luaran hasil dari uji regresi linear antara lain berupa Koefisien Korelasi yang mengukur kekuatan hubungan linier antara dua variabel. Semakin besar nilai absolutnya, semakin kuat hubungannya. R kuadrat merupakan Koefisien Determinasi yang menunjukkan tingkat kesesuaian model. Pembuatan plot Bland-Altman ini dapat dilakukan menggunakan software Graphpad Prism. 

  •  Analisis kurva ROC

Kurva ROC adalah representasi grafis dari hubungan antara sensitivitas dan spesifisitas. Dalam penelitian medis, kurva ROC yang dibuat dengan menggunakan SPSS 23 banyak digunakan untuk menggambarkan keakuratan diagnostik dan menentukan nilai cut-off yang optimal. Keakuratan diagnosis berasal dari area di bawah kurva ROC dan optimal cut-off digunakan untuk mengidentifikasi kondisi positif dan negatif dalam diagnosis. 

  • Uji Sensitivitas dan Spesifisitas (Sensitivity and specificity) 

Uji Sensitivitas adalah uji untuk mengetahui kemampuan tes dalam menunjukkan individu mana yang menderita sakit dari seluruh populasi yang benar-benar sakit. Sementara itu, Uji Spesifisitas adalah uji untuk mengetahui kemampuan tes dalam menunjukkan individu mana yang tidak menderita sakit dari mereka yang benar-benar tidak sakit. Uji sensitivitas dan spesifisitas dapat dilakukan menggunakan software CatMaker.   

6. Laporan hasil uji banding 

Laporan hasil uji banding terdiri dari :

    1. Cover 
    2. Halaman pengesahan 
    3. Daftar isi 
    4. Latar belakang 
    5. Tujuan 
    6. Waktu dan tempat pelaksanaan 
    7. Sampel 
    8. Alat dan bahan 
    9. Metode dan prosedur kerja 
    10. Hasil dan pembahasan 
    11. Kesimpulan 
    12. Lampiran 
Laporan hasil kemudian dapat dipresentasikan.



Terima kasih, semoga bermanfaat.







 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Pengantar Praktikum Hematologi

Uji VDRL dan RPR

Pemeriksaan Laboratorium terkait Diagnosis Hepatitis B